Pengalaman Pengusaha Berdampak: Menggunakan Pengalaman Pengusaha Wanita sebagai Contoh untuk Pembelajaran Bersama

Dengan meningkatnya kegiatan investasi berdampak di Indonesia, mari kita berefleksi bagaimana kegiatan investasi ini bekerja dan cara menjadikannya lebih baik. Termasuk memanfaatkan poin-poin penting mengenai kesadaran lensa gender sedang diadvokasi di negara ini.


Editorial: INTRA

Refleksi

Perjalanan Pengusaha Perempuan Pemula: Saya Harap Saya Lebih Banyak Berjejaring

Lulus MBA pada tahun 2013, tentunya saya merasa seperti berada di puncak dunia. Percaya diri dan bersemangat, saya merasa bahwa diri saya mewakili generasi yang sedang dibicarakan banyak orang pada saat itu: generasi milenial, yang akan mengubah suatu permainan. Dunia berada di ujung krisis hipotek subprima. Optimisme di mana-mana: Startup berkembang pesat, Silicon Valley berkembang, terjadinya Mumbai rising, kewirausahaan sosial Inggris menjadi tren. Kutu buku menjadi TREN (saya tidak pernah berada dalam stereotip pasukan pemandu sorak, jadi ini rasanya sangat melegakan) dan saya siap untuk terjun ke petualangan karir yang mengasyikkan di dunia startup yang berkemampuan teknologi.

Dengan semua pengalaman yang saya miliki dan sebagai lulusan sekolah luar negeri, pikiran kelas menengah saya bersemangat untuk kembali ke Indonesia.

Seperti banyak lulusan baru lainnya, saya langsung menguji pengetahuan yang saya dapatkan di universitas. Saya mempertaruhkan beberapa modal untuk melakukan apapun yang bisa saya lakukan, bertemu dengan beberapa teman lama, dan kemudian mendirikan usaha startup pertama saya: toko kosmetik dan kecantikan berbasis online yang melayani niche market. Mendirikan usaha ini dengan dua teman saya lainnya. Saya ingat malam-malam itu dimana kami mengintai para pesaing kami: Sociolla (yang waktu itu belum sebesar sekarang) dan beberapa lainnya.

Kami berhasil mendapatkan dua investor tahap awal, yang kini keduanya aktif berinvestasi. Perjalanan selama 3 tahun pun berakhir ketika startup kami terjual ke perusahaan yang lebih besar dan sekarang telah bubar. Kami memiliki performa dan pertumbuhan yang bagus. Tetapi pembubaran tersebut tidaklah meningkatkan. Kami menghasilkan banyak uang dari saham kami yang terjual, tetapi sesungguhnya alasan dibaliknya tidak semenarik itu: Salah satu co-founder perusahaan saya harus meninggalkan Jakarta karena ia satu-satunya calon CEO di bisnis keluarga, salah satu perusahaan manufaktur besar milik ayahnya di Semarang. Saya pun tidak ingin mengembangkan startup sendirian, apalagi mengingat peran pribadi saya saat itu. Sebagai ibu dengan anak usia 2 tahun, dimana berarti untuk bertemu dengan beberapa investor/vendor, saya harus menyiapkan waktu khusus bersama putri saya. Co-founder dalam hal ini juga berarti saya dapat mendiskusikan berbagai langkah strategis apa pun bersama-sama, terutama ketika berurusan dengan investor, atau melakukan pengembangan bisnis bersama-sama untuk membangun merek kosmetik dan kecantikan kami. Para co-founder dimaksudkan untuk selalu tetap bersatu!

Mengingat itu, saya berharap saya tahu ekosistemnya. Saya berharap saya bertemu, katakanlah, orang-orang di ANGIN, yang saat itu memulai Women Fund pertama di Indonesia. Atau saya berharap saya mengalokasikan lebih banyak waktu saya untuk lebih berjejaring. Dan dalam kasus saya saat itu, investor saya saat itu tidak berasal dari sektor yang sama, sehingga pendampingan dalam hal pengembangan bisnis dan jaringannya kurang. Saya berharap bisa lebih sering bergaul di coworking space (WeWork belum hadir di Indonesia saat itu) untuk bertemu dengan sesama pendiri usaha dan investor, demi memperluas wawasan. Saya yakin saya akan mendapatkan lebih banyak masukan, terutama terkait pemahaman saya tentang penggalangan dana startup (termasuk yang berlensa gender). Sebaliknya, saya justru bergaul dengan lingkaran sehari-hari saya: lulusan MBA yang bekerja di perusahaan, rekan-rekan BCG, konsultan Bank Dunia, relawan kemanusiaan luar Jakarta.

Lanjut cepat kepada hari ini, mengetahui lebih banyak dan menjadi bagian dari sisi investor dalam suatu ekosistem membuat saya berpikir. Sebagai seorang founder perempuan, berada di sisi investasi membuat saya menyadari pentingnya kesadaran, pengetahuan dan akses jaringan, di samping modal itu sendiri.

Berdasarkan hal tersebut, saya ingin memberikan contoh salah satu tema investasi berdampak yang sedang tren di Indonesia: Gender Lens Investing (GLI).

Konteks lensa gender, Tujuan Umum, dan Pengukuran Dampaknya

Jika kita melihat dari jauh, tahun 2020 menandai tahun bersejarah bagi kesehatan perempuan dan kesetaraan gender. Ada pertemuan Hari Perempuan Internasional (IWD) di Meksiko dan Paris, yang direncanakan untuk mengarahkan dan membangkitkan kembali komitmen global dalam hak-hak perempuan dan kesetaraan gender di tengah masalah kesehatan masyarakat setelah Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan COVID-19 sebagai pandemi. Telah disepakati bahwa situasi krisis mengintensifkan ketidaksetaraan gender. Di Indonesia, instruksi bekerja dari rumah sangat disarankan oleh pemerintah. Karena perempuan cenderung mengambil tanggung jawab utama untuk pengasuhan anak dibandingkan dengan pasangan laki-laki mereka, peningkatan kebutuhan pengasuhan anak oleh orang tua terkait dengan penutupan sekolah kemungkinan akan mempengaruhi perempuan secara tidak proporsional, yang berarti bahwa mereka, lebih dari pasangan laki-laki mereka, akan tinggal di rumah di mana mereka akan merasa sulit untuk bekerja; terutama dengan anak kecil yang membutuhkan perhatian terus-menerus.

Dengan demikian, Pemerintah Indonesia melalui Perencanaan Strategis Kementerian Koperasi dan UKM 2020-2024 adalah untuk mendukung UKM sebagai salah satu jalan keluar untuk mendongkrak perekonomian pasca pandemi. Dorongan tersebut merupakan arah yang jelas bahwa pemerintah akan fokus pada pengembangan dan pemberdayaan UKM, termasuk yang kita lihat melalui lensa gender (perempuan dalam kepemimpinan, produk yang berdampak pada perempuan, perempuan dalam rantai nilai).

Pertanyaannya adalah, bagaimana tujuan agenda nasional ini secara aktual mempengaruhi investor berdampak, yang ingin berinvestasi di UKM dengan menggunakan lensa gender sebagai tesis mereka? Saya mengambil kasus apa yang sebenarnya dilakukan investor: Dana Teja Ventures Virginia Tan, salah satu investor aktif yang menggunakan lensa gender di Indonesia dalam 5 tahun terakhir, dengan rekam jejak yang kuat dan berbagai upaya seperti She Loves Tech dan pendanaan 10 juta USD (baca disini). Lantas bagaimana agenda nasional mensinergikan dan memberdayakan investor (Beacon Fund, Patamar) untuk mencapai tujuan bersama memberdayakan UKM? Karena tesis pengukuran dampak pasca investasi (pemeliharaan dampak) tampaknya tidak terlalu ketat jika menyangkut Gender Lens Investment.

Dalam tiga tahun terakhir ANGIN telah diundang oleh pemerintah pusat untuk berbicara lebih banyak tentang investasi berdampak (termasuk yang berlensa gender) dan apa arti yang sesungguhnya dalam hal ini. Kami melihat ada minat dari pihak regulator untuk lebih memahami: startup-investasi-unicorn-usaha investasi berdampak ini. Meskipun dalam beberapa pertemuan kami memang terdapat beberapa kesalahpahaman, seperti mengintegrasikan investasi berdampak sebagai CSR, pembangunan infrastruktur, pinjaman mikro untuk perempuan, atau amal.

Melihat Investasi dari perspektif gender. Berlensa gender: Bukan Istilah Statis

Pada definisi itu sendiri, lensa gender telah tumbuh selama bertahun-tahun. Di Indonesia, hal ini dimulai sebagai tesis investasi yang melihat pengusaha wanita. GIIN dengan inisiatif berlensa gender-nya tahun ini mendefinisikan kembali definisi lensa gender sebagai investasi dengan maksud untuk mengatasi masalah gender atau mempromosikan kesetaraan gender, termasuk dengan:

  • Berinvestasi di perusahaan milik perempuan atau yang dipimpin perempuan
  • Berinvestasi di perusahaan yang mempromosikan kesetaraan tempat kerja (dalam kepegawaian, manajemen, representasi ruang rapat, dan di sepanjang rantai pasokan mereka); atau
  • Berinvestasi dalam perusahaan yang menawarkan produk atau layanan yang secara substansial meningkatkan kehidupan perempuan dewasa dan anak-anak.

Dan/atau berinvestasi dengan pendekatan berikut untuk menginformasikan keputusan investasi:

  • Sebuah proses yang berfokus pada gender, mulai dari kegiatan pra-investasi (mis., pengadaan dan uji tuntas) hingga pemantauan pasca-kesepakatan (mis., penasehat strategis dan exiting); atau
  • Strategi yang memeriksa, sehubungan dengan perusahaan investee:
    1. Visi atau misi perusahaan untuk mengatasi masalah gender
    2. Struktur organisasi, budaya, kebijakan internal, dan lingkungan kerja perusahaan;
    3. Penggunaan data dan metrik di perusahaan untuk pengelolaan kinerja yang berkesetaraan gender dan untuk memberikan insentif terhadap perubahan perilaku dan akuntabilitas; dan
    4. Bagaimana sumber daya keuangan dan sumber daya manusia di perusahaan menandakan komitmen terhadap kesetaraan gender secara keseluruhan.

Jika kita melihat definisi lensa gender beberapa tahun lalu, dimana fokusnya adalah gender pada pengusaha, atau pada produk (yang berdampak pada perempuan), kita dapat melihat bagaimana lensa gender dalam berinvestasi bersifat subjektif, dan terus berbenah dan menyesuaikan diri dengan kebutuhan investor dan investee dalam setiap konteks.

Upaya Kolektif, untuk lebih memajukan pasar di Indonesia

Indonesia telah semakin terbuka terhadap kesetaraan gender. Data statistik nasional berlensa gender telah ditegakkan, sesuai komitmen Indonesia terhadap SDGs yang diperjuangkan dan dilaksanakan oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Badan Pusat Statistik. Statistik Kesehatan Dunia pun juga telah menyajikan data terpilah berdasarkan jenis kelamin yang lebih komprehensif di berbagai bidang program. Indonesia dalam hal ini juga menjaga publikasi data secara konsisten ke tingkat daerah, meskipun masih terbatas. Data yang terpilah menurut jenis kelamin ini tentunya akan membantu negara-negara dalam memahami dinamika gender dari sumber dan pengembangan kebijakan yang sesuai. Lalu pertanyaan selanjutnya adalah, bagaimana ini diterjemahkan ke dalam visi berdampak, bagaimana upaya ini akan membantu kemajuan lensa gender dalam berinvestasi?

“Tantangan dari Gender Lens Investing yang tertulis besar adalah terlalu banyak bisnis keluarga yang membiayai pada ‘dua kantong.’ Pertama, mereka berinvestasi untuk menghasilkan banyak uang, dan kedua mereka memberikan uang kepada organisasi amal. Mereka melihat perempuan sebagai penerima manfaat, bukan sebagai pemilik bisnis yang bisa menguntungkan.” – Kaylene Alvarez, BIDUK menyatakan hal ini.

Beberapa investor berlensa gender dan advokat berlensa gender telah aktif meningkatkan kesadaran terkait kegiatan Gender Lens Investment di Indonesia. Data SEAF oleh Value 4 Women pada lensa gender menyatakan angka-angka yang mewakili Asia Tenggara sebagai suatu kawasan menyelami secara mendalam angka-angka Gender Lens Investing di Indonesia. She Loves Tech, kompetisi startup global secara konsisten diadakan di Indonesia, dengan objektif mencari tech-startup berlensa kesetaraan gender. UN Women Indonesia juga menerbitkan publikasi yang menjadi sorotan melalui ANGIN, menampilkan praktisi berlensa gender di Indonesia tahun lalu.

Berinvestasi di perusahaan perempuan adalah berlatih bisnis, bukan upaya filantropi murni. Mason Tan menyatakan hal ini, “berinvestasi di perusahaan perempuan bukanlah kegiatan filantropi. Investor harus menyadari skalabilitas dan keberlanjutan perusahaan ini.”.

Upaya ini menciptakan peluang untuk lebih memajukan praktik Gender Lens Investing di Indonesia. Salah satu caranya adalah dengan menghubungkan konteks antara kelompok asing pendukung investasi lensa gender (seperti mereka yang didanai DFI dan filantropi), dengan pemangku kepentingan lokal di Indonesia. Upaya tersebut dapat dimulai dengan mengembangkan seperangkat ukuran yang disesuaikan dengan konteks Indonesia. Hal ini selaras dengan apa yang dilaporkan SEAF: diperlukannya cara yang kreatif untuk menutup kesenjangan gender di Indonesia, dan investasi berlensa gender adalah salah satu cara untuk melakukannya. SEAF membuat kasus tersebut dengan kasus Women Opportunity Fund ke Beau, sebuah toko roti yang dipimpin oleh wanita di Jakarta.

Walaupun mungkin kasusnya tidak terlalu ‘kreatif’ atau bahkan dianggap berada di zona aman. Berinvestasi pada seorang perintis pengusaha wanita Beau (berpendidikan asing, mampu berbahasa Inggris), berada di wilayah creme-de-la-creme di Jakarta, mungkin tidak cukup untuk ratusan perusahaan di seluruh Indonesia yang dapat dilihat jika lensa gender digunakan secara kontekstual.

The Trailblazers/ Si Pelopor adalah mereka yang model bisnisnya inovatif, diterjemahkan sebagai berkemampuan teknologi, pertumbuhannya agresif, skala dampak berfokus pada jangkauan, kemajuannya sudah matang, sektornya banyak dicari, mahir berkomunikasi dengan investor dan pasar, memiliki literasi keuangan, terekspos, dan berlokasi di Jakarta.

The Misfits/ Si Tidak Sesuai adalah mereka yang perusahaannya memiliki model bisnis kurang inovatif, diterjemahkan sebagai offline, jalur pertumbuhannya konservatif, skala dampak berfokus pada kedalaman (misalnya, fokus pada penerima manfaat tertentu di situs tertentu dan dipasarkan di lokasi yang terbatas), berada pada tahap awal kemajuan, tidak dapat berkomunikasi dengan jelas kepada investor dan pasar, memiliki literasi keuangan yang relatif rendah untuk diinvestasikan, tidak terpapar dan memiliki perusahaan yang berlokasi di luar Jakarta.

The In-betweens/ Si Tengah  adalah mereka yang aspek investasinya mungkin mencapai the Trailblazers namun disaat yang bersamaan memiliki beberapa aspek lainnya yang lebih dekat pada kondisi The misfits.

Untuk bergerak maju, DFI dan advokat yang didanai donatur mungkin perlu melihat ke wilayah luar Jakarta, melihat lebih dari sekedar pengusaha the trailblazers. Ada peluang untuk melihat bagaimana calon investor subnasional, dan siapa yang sebenarnya berinvestasi menggunakan lensa gender (dan lensa berdampak lainnya), termasuk memahami apa tantangan yang mereka hadapi dan bagaimana mereka dapat diberdayakan di Indonesia.


Catatan

1 ANGIN membuat beberapa laporan pada The Voice of Entrepreneurs: Realitas Investasi Berdampak di Indonesia yang menampilkan persepsi pengusaha terhadap investor dan dapat diakses di sini: https://drive.google.com/drive/u/0/folders/10EOV6V6gbF1H9DKREEuzTNkX-4bqdB4Q

Referensi

https://www.thejakartapost.com/academia/2020/04/11/covid-19-gender-lens-needed-to-fight-pandemic
https://www.businesstimes.com.sg/wealth-investing/financial-services-the-sector-leader-for-gender-lens-funds
https://v4w.org/wp-content/uploads/2021/03/Gender-Lens-Investing-in-Southeast-Asia-Brief-MARCH-26-2021-1-1.pdf
https://sbr.com.sg/economy/commentary/gender-smart-investing-us45t-opportunity-singapore-can-leverage
https://www.usaid.gov/sites/default/files/documents/Power-Africa-Gender-Smart-Investing-Feb-2021.pdf
https://www.seaf.com/gender-lens-investing-and-closing-the-gender-gap-in-indonesia/
https://www.kemenkopukm.go.id/uploads/laporan/1600168483_RENSTRA%202020-2024%20OK.pdf
https://www.bloomberg.com/news/articles/2021-07-12/wealthy-families-lead-charge-into-gender-lens-investing-in-asia
https://www.angin.id/2020/01/29/19403
https://v4w.org/wp-content/uploads/2021/03/Gender-Lens-Investing-in-Southeast-Asia-Brief-MARCH-26-2021-1-1.pdf