Masalah dan Peluang –
Potensi Investasi Berdampak di Indonesia

Penulis: Sagar Tandon | Saskia Tjokro
Penerjemah: Galih Arumsari

Editorial: INTRA

Pandemi telah menyebabkan pertumbuhan ekonomi global menurun,1 termasuk yang terjadi di Indonesia. Sepanjang 2020 dan 2021 beraneka macam usaha tatap muka langsung antara penyedia jasa / produk dengan pelanggannya terpukul. Usaha-usaha ini meliputi sektor industri retail, hotel dan restoran, usaha wisata, edukasi, dan lain-lain. Pelabuhan internasional seperti Jakarta dan Bali sepi. Kebutuhan untuk adaptasi dan modifikasi proses bisnis dalam waktu singkat menjadi krusial bagi usaha-usaha dalam industri yang bertatap muka langsung ini.

Meskipun dalam kondisi pandemi, per Juni 2021,2 16 unicorn dan decacorn di negara-negara ASEAN.3 Angka ini terbilang besar, bila dibandingkan dengan pertumbuhan unicorn sebelum pandemi. Dari total angka tersebut, Indonesia menyumbang 7 unicorn baru, termasuk unicorn yang bisnis dasarnya biro perjalanan dan pariwisata (yang justru harusnya sangat terpukul). Kembali lagi kepada dasar sebuah startup: usaha yang mampu dengan lincah menjadi solusi masalah di masyarakat, bisnis yang dimaksudkan untuk mendisrupsi status quo.

Di sektor lain, kami juga melihat usaha-usaha yang mampu cepat beradaptasi dengan pandemi. Kami lihat bagaimana beberapa usaha fintech tumbuh, bagaimana beberapa usaha edutech berbasis online menjadi trending, dan bagaimana e-marketplace yang memberikan akses untuk pemasukan tambahan masyarakat luas tumbuh dan go public.

Peran katalis infrastruktur digital

Dalam ranah investasi berdampak, ANGIN telah menyaksikan beberapa tren menarik yang mengubah perkembangan investasi berdampak di Indonesia sejak tahun 2015. Kami melihat investor mainstream (seperti VC, korporat, perusahaan ekuitas swasta) juga berinvestasi di usaha sosial, meskipun mereka tidak menamakan diri sebagai investor berdampak. Pandemi mengkondisikan ‘dampak’ sebagai salah satu intensi berinvestasi, bahkan untuk investor mainstream.4 Investor berdampak bukan lagi satu-satunya yang mendanai pertumbuhan  Usaha sosial. Selain itu,banyak usaha yang tidak mendefinisikan diri sebagai usaha sosial (social enterprises), bahkan tidak mengetahui jargon ini, memiliki kontribusi penting terhadap dampak dan pencapaian SDGs.

Investasi berdampak tampil sebagai konsepsi baru berinvestasi dalam dampak, yang mana dampak ini menjadi arbitrase, peluang, “kebiasaan baru” di Indonesia era new normal.

Dari segi infrastruktur, penetrasi internet Indonesia telah tumbuh begitu pesat secara sistematis dalam beberapa tahun terakhir. Negara membangun dua jaringan pipa mega proyek konektivitas digital yang bertujuan untuk menghubungkan sisi timur ke barat nusantara. Sangat jelas kontribusi ini berdampak pada penggunaan konektivitas digital, termasuk memungkinkan inovasi lokal bersinar.

Lebih banyak masalah = lebih banyak peluang

Di luar respon dunia usaha terhadap pandemi, ada beberapa masalah mengenai investasi dan akses modal finansial di Indonesia. Kesenjangan pasar yang ada di Indonesia berpotensi untuk diatasi oleh sektor non-pemerintah (alias sektor swasta, termasuk usaha sosial). Berdasarkan tumbuh kembang startup-startup (termasuk unicorn) di era pandemi, semakin banyak masalah yang harus diselesaikan berarti banyaknya peluang untuk para inovator yang membawa solusi.

Pembiayaan alternatif di luar bank

Salah satu masalah yang berpeluang untuk diselesaikan adalah adanya kesenjangan dalam sektor pembiayaan di luar bank. Para pengusaha startup (UMKM yang bervisi mengejar pertumbuhan cepat) Indonesia pada umumnya tidak memiliki akses permodalan dari perbankan karena persyaratan administrasi yang tidak sesuai dengan karakteristik startup. Misalnya, tidak ada prioritas cek kredit pada arus kas, juga ketiadaan potensi aset untuk diagunkan (karena operasi usaha berbasis inovasi, tidak banyak memiliki aset fisik), meskipun sebenarnya para startup ini memiliki potensi untuk tumbuh jauh melampaui kriteria-kriteria yang dilihat oleh bank tersebut. Masalah pembiayaan ini dapat ditangani oleh entitas yang memiliki niat berdampak, misalnya dengan cara menyediakan akses / peluang dana investasi yang berspesialisasi di startup penyedia aktivitas pinjaman (lending activity); yang dapat ditangani oleh berbagai entitas pembiayaan selain bank. Umum disebut sebagai dana utang swasta, seperti yang dilakukan Beacon Fund, yakni penyediaan dana utang yang berfokus pada penciptaan akses ke produk utang untuk usaha-usaha yang dipimpin perempuan (juga diterjemahkan sebagai lensa gender dalam ranah investasi berdampak. 

Bangkitnya gig economy

Masalah = peluang yang kedua adalah semakin merajalelanya ketidakamanan pekerjaan. Indonesia tidak pernah memiliki ‘pekerjaan aman’, omnibus law Indonesia yang baru hadir memberi cap jelas, bahwa pekerja lepas dan pekerja kontrak dapat digantikan. Bahkan jika perusahaan yang melakukan pemutusan hubungan kerja adalah korporat besar. Oleh karena itu, para tenaga kerja yang ingin terus bekerja melahirkan tren gig economy, pekerjaan berbasis ‘gig’. Tanpa perubahan regulasi, dapat kita prediksi bahwa pangsa pekerja gig economy akan terus tumbuh di Indonesia. Hal ini membuka peluang baru bagi startup untuk memfokuskan produk mereka ke pasar dan platform yang dapat menciptakan lapangan pekerjaan dalam skala besar dengan pendekatan gig economy

Solusi gig economy ini bervariasi antar sektor. Solusi seperti konsultasi kesehatan online kian meningkat, termasuk juga edutech (baik platform kursus informal dan pendidikan formal) yang menyediakan pembelajaran jarak jauh serta menjangkau aksesibilitas lokasi yang tidak terbayangkan sebelumnya kepada target penggunanya. Dari segi SDG, solusi berbasis gig economy ini menjawab kebutuhan berdampak dari poin SDG lintas sektoral. Misalnya, Kesetaraan Gender dengan Konsumsi Berkelanjutan serta Pekerjaan Layak.

Tren kesehatan dan gaya hidup

Masalah = peluang yang lain adalah kemunculan COVID-19, pemahaman mengenai kesehatan dan lingkungan semakin tinggi, khususnya di generasi muda Indonesia. Hal ini membuka tren baru dalam investasi berdampak, seperti investasi pada solusi-solusi yang menawarkan pola makan nabati, solusi gaya hidup sehat, solusi ekonomi sirkular, dan solusi-solusi lain yang memberikan konsumen pilihan untuk membuat keputusan konsumsi yang lebih baik. Termasuk juga solusi sektor pertanian, solusi organik, solusi fair trade, dan solusi-solusi lain terkait rantai nilai sektor pertanian.

Memperkuat ketahanan ekonomi

Selain itu, masalah yang dapat menjadi peluang adalah ketahanan ekonomi dan ketahanan pangan. Usaha-usaha sosial yang muncul pada sektor FMCG, perdagangan internasional, dan pertanian akan memainkan peran penting dalam meningkatkan Indeks Kompleksitas Ekonomi Indonesia (ECI),5 dengan cara meningkatkan daya saing pertumbuhan ekonomi Indonesia. 

Investasi berdampak di Indonesia masih dalam masa pertumbuhan

Pasar yang sedang berkembang memiliki banyak ruang untuk tumbuh, kesempatan untuk membawanya ke arah yang efektif efisien untuk penciptaan dampak. Sebagai studi kasus, Indonesia adalah ekonomi internet terbesar dengan pertumbuhan tercepat di Asia Tenggara, memiliki lebih dari 150 juta pengguna internet. Setidaknya ada 52 juta orang Indonesia  berada di dalam kelas menengah. Dalam konteks ASEAN, Indonesia menyumbang 40% dari output ekonomi dan populasi Asia Tenggara. Ini adalah pasar terintegrasi tunggal terbesar di kawasan ini, berada di urutan ketiga setelah China dan India jika kita melihat Asia yang sedang berkembang secara keseluruhan. 

Dalam praktik investasi berdampak sendiri, sebagian besar manajer investasi tidak berpihak pada sektor tertentu (agnostik secara sektor), di mana belum banyak tesis investasi dan fund yang berfokus pada dampak, melebihi pada saat sourcing dan seleksi. Selain itu, beberapa hal yang kami lihat dalam praktik investasi berdampak:

  • Menjadi unicorn hanyalah salah satu jalur pertumbuhan (growth), dan bukan satu-satunya jalur dan visi. Ada banyak jalur pertumbuhan yang berbeda, misalnya menjadi sustainable, diakuisisi pemain yang lebih besar atau korporat, dan lain-lain. Salah satu contohnya adalah yang telah kami sebutkan, Beacon Fund, yang tidak selalu menjadikan unicorn sebagai tujuan akhir perjalanan investasi portfolionya.
  • Usaha sosial yang termasuk startup (bervisi pertumbuhan tinggi / high-growth) tidak hanya terbatas pada usaha-usaha yang memiliki solusi berbasis teknologi digital saja. Banyak usaha sosial yang inovasinya tidak menitik beratkan diri pada tech solution, namun tetap merupakan bagian dari usaha sosial yang diinvestasi oleh investor berdampak; seperti startup Duanyam (meskipun akhirnya mereka merambah Krealogi), Burgreens, dan lain-lain.  

Kami melihat tingkah laku pendanaan fund di Indonesia bersifat spray and pray (sebar luas & berdoa), yakni menggunakan pendekatan investasi dengan cara menyusun portofolio yang sangat beragam, dengans edikit dukungan langsung dari dalam ekosistem investasi berdampak. Dari sisi talenta dunia kerja, Kami melihat masih minimnya talenta di bidang investasi berdampak ini di Indonesia karena belum terintegrasinya keilmuan investasi berdampak ke dalam kurikulum resmi pendidikan tinggi. Akibat minimnya talenta tenaga kerja ini, tercipta situasi yang kurang efektif untuk menyalurkan tesis investasi berdampak di Indonesia (jika melihat cara pengembangan portfolio spray and pray yang dilakukan saat ini). Kembali lagi pada apa yang kami nyatakan di atas: lebih banyak masalah, lebih banyak peluang.

Di sisi lain, dalam hal investasi secara umum, modal ventura lokal (PMV berizin OJK) justru cenderung kurang memberikan ekuitas. Kami mendapati kasus di mana pendiri usaha sosial lebih pemilih untuk mengambil modal ekuitas dari sembarang investor, membuat mereka rentan untuk terjebak dalam “perangkap pertumbuhan lambat”, di mana yang dilihat bukan pertumbuhan namun lebih ke arah pendapatan dan kriteria-kriteria konservatif, membatasi pengembangan skala mereka. Investor berdampak dan investor startup perlu untuk mempertimbangkan struktur pembiayaan yang inovatif seperti utang yang variabel (variable debt), bagi hasil (revenue share), utang likuidasi sendiri (self-liquidating debt), dan instrumen mezzanine lainnya. Sejauh ini kami belum melihat banyak  hal ini dalam kasus investasi berdampak inovatif di Indonesia.

Tentu saja, pemahaman tentang instrumen solusi berkaitan langsung dengan kualitas talenta di ranah investasi berdampak. Perlu dicatat, karena ini adalah pasar yang sedang berkembang (untuk investasi berdampak), ada kelangkaan talenta yang berpotensi dapat diselesaikan oleh pemerintah dan sektor swasta. Penguatan pendidikan tinggi di Indonesia akan diperlukan. INTRA turut mencoba menjadi solusi melalui solusi pengembangan karir kami. 

Sekali lagi, ini adalah kasus bilamana lebih banyak masalah, lebih banyak peluang. Ini adalah ruang yang perlu diperhatikan bagi pemangku kepentingan (key stakeholders): regulator, investor berdampak, perencana, perusahaan sosial. Sementara itu, kami melihat lebih banyak orang masuk ke ranah investasi berdampak ini: talenta global, inovasi, diaspora. Kami tidak memiliki masalah yang sama ketika Direktur Pengelola ANGIN, David pertama kali datang ke negara ini 7 tahun yang lalu: karena tidak ada yang mengerti tentang apa investasi berdampak, atau fakta bahwa Indonesia belum menonjol di mata komunitas investasi berdampak global. Kini di tahun 2021, Indonesia jelas merupakan lokasi yang harus diperhatikan dalam hal investasi berdampak.

Klik disini untuk versi bahasa inggris


1Pernyataan Kementerian Indonesia mengenai peluang investasi di Indonesia https://www.bkpm.go.id/en/publication/detail/news/great-investment-opportunities-and-economic-growth-why-invest-in-indonesia
2 https://bigalpha.id/news/ada-anggota-baru-ini-daftar-unicorn-indonesia-paling-update
3 https://www.dfat.gov.au/international-relations/regional-architecture/asean#:~:text=ASEAN%20brings%20together%20ten%20Southeast,and%20Vietnam%20%E2%80%93%20into%20one%20organisation.
4 Laporan ANGIN https://www.angin.id/2020/10/05/investinginimpact
5 ECI (Economic Complexity Index/ Indeks Kompleksitas Ekonomi) mengukur intensitas pengetahuan relatif terhadap suatu perekonomian. Perekonomian Indonesia memiliki ECI sebesar -0,306 menjadikannya negara paling kompleks ke-71 (dari 130. Dibandingkan Malaysia, peringkat 25, atau Thailand, peringkat 32, India, peringkat 45 – atau bahkan Filipina, peringkat 43 pada 2017).