Laporan Pembelajaran Wirausaha Hijau

Sektor pertanian Indonesia terus tumbuh dan memberikan andil yang signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional karena tingginya permintaan dan bertambahnya pelaku dari sisi penawaran. Sektor pertanian di Indonesia diperkirakan mencapai US$ 151,1 miliar pada tahun 2020, dengan Compound Annual Growth Rate (CAGR) sebesar 6%.

Investasi berdampak inovatif atau upaya untuk menciptakan model atau struktur investasi baru untuk mengatasi kesenjangan yang ada di pasar, dapat meningkatkan kematangan sektor ini. Agroforestri dan perikanan dianggap memiliki potensi besar untuk investasi berdampak di sistem pertanian dan pangan. Sayangnya, investasi berdampak terbatas pada jenis bisnis tertentu di sektor ini. Investor sering fokus pada solusi di hilir, misalnya akses pasar dan akses keuangan, daripada solusi di hulu. Selain itu, investor berdampak terbatas pada kalangan tertentu, seperti di kalangan pengusaha di kota-kota besar, padahal investasi berdampak masih dapat memacu inovasi dan pertumbuhan sektor.

Program Wirausaha Hijau dilatarbelakangi oleh kurangnya akses permodalan, yakni buruknya kecocokan profil permodalan dan dukungan ekosistem yang tidak memadai. Wirausaha Hijau menargetkan pengusaha dengan solusi inovatif untuk tantangan yang terkait dengan sistem pertanian dan pangan yang berkelanjutan. Program ini didasarkan pada prinsip-prinsip Lokal, Disesuaikan, Berkelanjutan, dan Inklusif. Melalui akses ke pendanaan, pendampingan yang disesuaikan, dan kemitraan strategis, program ini bertujuan untuk mendorong inovasi dan kewirausahaan dalam rantai nilai sistem pertanian dan pangan Indonesia.

Wirausaha Hijau diselenggarakan oleh ANGIN, terdiri dari tiga komponen utama: pendampingan, open office hours, dan sesi networking. Perusahaan pertanian tahap awal menghadapi berbagai tantangan berdasarkan sifat dan latar belakang bisnis mereka, di antara faktor-faktor lain, yang menjelaskan pendekatan bimbingan yang dikuratori.

Tentunya ada manfaat yang tidak berwujud bagi pengusaha dan industri secara keseluruhan dari program ini. Bagian mentoring utama yang efektif, keterlibatan yang tinggi dari mentor dan pengusaha, dan kelanjutan yang kuat menunjukkan keberhasilan program. Namun demikian, ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan sebagai refleksi dari program ini, seperti terbatasnya ketersediaan pengusaha di luar perkotaan, volatilitas yang tinggi untuk perusahaan tahap awal, dan kesenjangan kesiapan antara dana yang tersedia dan kesiapan bisnis setelah program.

Untuk mendukung pertumbuhan industri pertanian, semua pemangku kepentingan perlu bekerja sama dan menciptakan ekosistem bisnis pertanian yang kondusif. Untuk meningkatkan keinginan bisnis pertanian di Indonesia, para pengusaha perlu secara aktif mencari dukungan dan meningkatkan jaringan mereka, para investor harus menemukan struktur investasi yang inovatif untuk kalangan menengah yang hilang, para enabler harus merancang model bimbingan bisnis hibrida, dan pemerintah harus meringankan beban melakukan bisnis di daerah non-perkotaan.

Unduh dan baca laporan pembelajaran Wirausaha Hijau di tautan berikut: