Konsumsi Produk Pangan Nabati sebagai Solusi untuk Isu Perubahan Iklim

Bagaimana isu seperti keberlanjutan, perubahan iklim, kesejahteraan hewan, pengurangan jejak karbon, dan konsumsi yang bertanggung jawab dapat meningkatkan investasi usaha sosial yang memiliki solusi produk dan layanan terkait konsumsi pangan nabati.

Penulis: Sagar Tandon | Saskia Tjokro
Penerjemah: Galih Arumsari

Editorial: INTRA

Sustainability adalah salah satu jargon trendi dalam ranah diskusi dan wacana tentang dunia yang lebih baik. PBB meneruskan Millenium Development Goals (MDGs) menjadi Sustainable Development Goals (SDGs), menggiring ranah filantropi dan altruisme ke wacana keberlanjutan sampai saat ini. Pertanyaannya adalah: Bagaimana mendefinisikan ‘berkelanjutan’?

Dipimpin oleh negara-negara yang menandatangani Kesepakatan Iklim Paris 2015, seluruh dunia masih merunut pada pencapaian SDGs. Beberapa tindak lanjuti: pendanaan DFI, kampanye jangka panjang INGO, acara COP tahunan, serta advokasi badan-badan PBB melalui kantor lokalnya di berbagai negara. Salah satunya seperti yang dilakukan UNDP melalui gugus tugas khusus Perubahan Iklimnya di kantor Jakarta, menciptakan inisiatif penurunan jejak karbon untuk menghindari kenaikan suhu 2 derajat celcius sesuai Kesepakatan Iklim Paris.1

Aktivitas berbasis keberlanjutan ini juga diikuti oleh family offices dan investor-investor berdampak. Berpedoman dengan SDGs, tema yang paling populer diinvestasikan adalah tema sosial dan kemanusiaan, seperti inklusi keuangan. Kami mendengar begitu banyak kegiatan investasi berdampak, terutama di Afrika, Asia Selatan, dan Asia Tenggara; investasi-investasi yang bertesis selayaknya tema Grameen Bank: Banking the unbankable. Hal ini diiyakan oleh salah satu investor berdampak Belanda saat tim ANGIN mengunjungi mereka tahun lalu (sebelum pandemi!). Tesis investasi ini dinilai menguntungkan, memiliki ekuitas yang terus tumbuh, dan terbukti cukup kuat untuk terus meningkatkan skalanya sebagai sebuah usaha. (ANGIN, 2020) 

Kesimpulan ini didapat dari perbandingan dengan tesis investasi berdampak lain yang berbasis SDGs, seperti kesejahteraan hewan atau konsumsi yang tidak bertanggung jawab / tidak beretika, serta eksploitasi hewan darat dan laut. Di sisi lain, mayoritas investor berdampak (termasuk DFI besar, yayasan, dan filantropis) lebih memberi perhatian kepada solusi-solusi yang lahir dari sektor agrikultur dan peternakan hewan. Startup seperti E-fishery mendapatkan banyak perhatian karena memberikan solusi dalam sektor ini.

Sebagai investor berdampak dan aktivis hak asasi hewan kami prihatin kenapa kita masih mendanai eksploitasi hewan demi menciptakan “dampak sosial”, terlebih lagi disebut sebagai “investasi berdampak”. Berikut argumen kontra investasi di industri hewan yang eksploitatif, tidak hanya terbatas pada etika hewan, tetapi juga adanya alasan kuat untuk lingkungan, etika, dan kesehatan:

  1. Peternakan hewan merupakan penyebab utama kepunahan banyak spesies, pembentuk zona mati laut, pencipta polusi air, dan perusakan habitat.
    2.500 galon air diperlukan untuk menghasilkan 1 pon daging sapi dan 1.000 galon air diperlukan untuk menghasilkan 1 galon susu. Peternakan dengan 2.500 sapi perah menghasilkan jumlah sampah yang sama dengan kota berpenduduk 411.000 orang. Untuk setiap 1 pon ikan yang ditangkap, hingga 5 pon spesies laut yang tidak disengaja tertangkap lalu dibuang (dibunuh). 80% antibiotik di Amerika Serikat diperuntukan ke ternak hewan. Di abad ke 20, zoomass hewan liar berkurang setengahnya, sedangkan zoomass manusia dan hewan peliharaan meningkat lebih dari tiga kali lipat. Dan sekarang, 35 kali melampaui zoomass binatang liar.

  2. Penyetop perkembangan berlebihan lahan pertanian.
    Pergeseran konsumsi protein hewani menjadi protein nabati menambah hingga 49% pasokan makanan global tanpa memperluas lahan pertanian, dan juga mengurangi emisi karbon dan produk sampingan limbah yang berakhir di lautan secara signifikan dan sebagai produk sampingan makanan laut (Jalava et al., 2014). Untuk mengurangi produksi gas rumah kaca dibutuhkan rantai pasokan alternatif selain hewan, tidak hanya dengan mengubah dan berinovasi cara kerja peternakan hewan, tetapi juga menghentikannya.

  3. Konsumsi yang bertanggung jawab. Apa adanya.
    Setiap tahun, 70 miliar hewan darat dan mungkin 1 triliun hewan laut dibunuh. Laporan Sea Shepherd melalui Ali Tabrizi Seaspiracy 2020, kematian hewan-hewan laut  ini terjadi bukan karena dibunuh untuk dimakan, melainkan mati sebagai efek samping industri penangkapan hewan. Misalnya, setiap tuna sirip biru yang dibunuh sebagai makanan, ada 30 hewan lain yang terbunuh akibat tertangkap secara tidak sengaja di jaring. Contoh lainnya, peningkatan konsumsi salmon menyebabkan terjadinya pertumbuhan tambak salmon di Norwegia, yang salah satu efeknya membuat penurunan kualitas daging salmon akibat penyakit menular yang muncul dalam salmon yang ditambak. 

  4. Peternakan hewan merupakan ancaman serius bagi kesehatan masyarakat.
    Sekitar 70% penyakit baru yang menyerang manusia selama 10 tahun terakhir (seperti Virus  West Nile) berasal dari hewan atau produk yang berasal dari hewan. (Otoritas Keamanan Pangan Eropa). Ini belum termasuk wabah virus SARS dan virus H1N1 yang sebenarnya yang berasal dari unggas dan babi dua dekade lalu.

  5. Peternakan hewan tidak ramah lingkungan.
    Pada dasarnya, industri peternakan hewan tetaplah sebuah industri. Mengkonsumsi satu ekor ayam ternak sama dengan mengkonsumsi 12 kantong plastik besar (WWF, 2019). Itu sama dengan mengkonsumsi 1.200 sedotan plastik. Sektor peternakan paling berperan terhadap perubahan iklim. Diperkirakan 37% dari seluruh emisi karbon dioksida disebabkan oleh manusia.2 Di sisi lain peternakan hewan menyumbang 51% dari emisi gas rumah kaca (GRK).3 Menurut University of Oxford mengurangi konsumsi daging dan produk susu dapat mengurangi jejak karbon makanan hingga 73%. Selain itu, melihat proyeksi pertumbuhan populasi dan tren pola makan saat ini, peningkatan emisi dari peternakan mencapai 80% di tahun 2050.4

Sebagai investor berdampak, kita pun bertanya pada diri kita sendiri. Bisakah kita, para investor yang berinvestasi untuk berdampak, mempertimbangkan “kesejahteraan hewan”?

Jika berbicara tentang sustainability, keberlanjutan, serta interkonektivitas isu-isu dalam SDGs satu sama lain, perubahan perilaku bukanlah sebuah pilihan, namun keharusan. Perlu transisi, namun tetap harus dilakukan. Masalahnya di sini lebih tentang “apa yang perlu kita lakukan untuk membuat transisi berhasil?” Di mana kita harus mulai mempertimbangkan aspek kesejahteraan hewan ke setiap investasi.

Sayangnya, pengurangan investasi industri peternakan hewan akan langsung berimbas terhadap mata pencaharian peternak. Kekhawatiran ini sangat masuk akal. Karena itu kita perlu menemukan cara menyelesaikan dilema ini – menyelamatkan nyawa hewan vs. mengambil peluang mata pencaharian bagi perternak. Di sinilah setiap transisi kecil diperhitungkan.

Ekonomi berbasis nabati, ekonomi yang lebih ramah

Terkait proses transisi perilaku ternak hewani kepada basis nabati yang beretika, apa yang akan terjadi kepada peternak-peternak hewani yang sudah ada? Apa yang dapat mereka lakukan, dan bagaimana usaha sosial dapat berperan dalam memberikan solusi? Beberapa transformasi yang dapat dilakukan adalah seperti memanfaatkan infrastruktur yang sudah ada dalam rantai nilai usaha, seperti sumber daya manusia yang sudah ada, modal keuangan yang sudah ada, lahan pertanian yang sudah ada, dll; elemen-elemen ini dapat dimanfaatkan untuk membangun usaha ekonomi berbasis tumbuhan, seperti: 

  1. Pekerja pengepakan daging dapat ditransformasi menjadi pengemas burger atau nugget nabati.

  2. Peternak kontrak penyedia ayam dan sapi dapat bertransisi menjadi produsen rami dan jamur.
    Bayangkan jika sebagian besar petani, yang bergantung pada industri daging, tidak memelihara hewan – mereka menanam kedelai dan jagung untuk pakan ternak. Sebagai gantinya, para petani ini dapat menjualnya ke perusahaan berbasis tanaman yang digunakan sebagai bahan alternatif membuat susu atau pengganti daging (protein). Petani juga dapat beralih menanam kacang hijau, kacang polong, dan gandum, di mana adanya peningkatan permintaan perusahaan nabati untuk membuat produk bebas kedelai dan bebas gluten.

  3. Peternak sapi perah dapat beralih ke pembuatan susu nabati seperti kedelai, oat, atau susu beras.
    Misalnya, tukang daging yang bekerja di rumah jagal besar atau toko daging beralih ke pabrik besar berbasis tanaman, pengepakan burger dan nugget – bayangkan – pabrik rebel tumbuhan hijau / Burgreens.

Hal ini pasti tidak semudah mengatakannya, karena peternakan memang merupakan salah satu industri utama di Indonesia sampai saat ini. Isu kesejahteraan hewan dan alih protein nabati dari hewani pun masih berpusat pada sebagian kecil masyarakat di Indonesia. Bahkan di tahun 2021, salah satu inovasi pemenang inkubasi startup yang difasilitasi pemerintah Indonesia memiliki solusi berupa IoT mengembangkan peternakan ayam yang berpendekatan ekonomis (lebih hemat dan efisien, tanpa mengindahkan kesejahteraan hewan), yang mana di dalam konteks investasi berdampak negeri lain mungkin tidak dianggap sebagai inovasi masa depan, karena dunia sedang bergerak menuju dekonstruksi pola konsumsi, Sementara itu, di sisi lain, kami juga sangat mengapresiasi terhadap program FSI di bawah Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dengan Ultra Indonesia yang berfokus pada inovasi produk berbasis nabati.  Terlebih lagi, kami percaya bahwa Indonesia dapat menjadi konsumen protein nabati yang baik; karena secara global konsumsi hewani masyarakat Indonesia (berdasarkan Badan Pusat Statistik 2021) bukan merupakan pengkonsumsi daging hewani yang besar dan memiliki banyak makanan utama berbasis nabati. Sebut saja gado-gado, karedok, tempe penyet, dan semur nangka. 

Komunitas investasi dampak perlu menyatukan berbagai stakeholder untuk memperlancar transisi dan memastikan bahwa ini adalah win-win solution bagi lingkungan, kesejahteraan hewan, dan para petani. Vox membahas topik ini secara lebih rinci disini.

Kita bergerak ke arah yang benar

“Asia adalah rumah bagi lebih dari setengah populasi dunia dan sebagai akibatnya, menghadapi ancaman terbesar dalam hal kerawanan pangan dan tantangan sosial, lingkungan, dan ekonomi yang berkaitan. Pengusaha berbasis di Asia melakukan bagian mereka untuk mengatasi meningkatnya kebutuhan akan alternatif daging, makanan laut, telur, dan susu. Serta memenuhi kebutuhan lokal dengan produk yang dirancang untuk selera Asia.” Laporan Industri Protein Alternatif APAC 2021.

ANGIN telah secara aktif berpartisipasi di isu ini sejak didirikan di Indonesia. Dengan berinvestasi di perusahaan seperti Burgreen, yang ketika dimulai pada tahun 2016, memiliki target pasar yang kecil dan niche. Lalu dengan peningkatan kepedulian terhadap lingkungan, kesehatan, dan etika di kalangan masyarakat Indonesia, kami melihat adopsi makanan nabati semakin tumbuh—saat ini, sekitar 66 juta konsumen produk nabati Indonesia. Di tingkat global, perusahaan seperti Tindle dan Better Nature UK berhasil menjalankan ‘ekonomi yang lebih ramah’ melalui inovasi protein nabati ke dalam kebutuhan diet masyarakat yang menjadi pasarnya.

Beriringan dengan meningkatnya kesadaran konsumen akan produk berbasis tumbuhan, perlahan tapi pasti kini, komunitas investor berdampak menyadari besarnya potensi sosial, lingkungan, dan ekonomi atas cruelty-free technology untuk menciptakan dunia bebas eksploitasi hewan.

Bila kamu seorang investor berdampak yang mempertimbangkan untuk berinvestasi dalam hal ini, kami ingin mendengar pendapatmu! Good Food Institute membuka kesempatan untuk bergabung dan mempelajari lebih lanjut tentang daging nabati dan budidayanya.



Klik disini untuk versi bahasa inggris


1 Indonesia’s Biodiversity Financing Report, UNDP 2020
2 https://www.fao.org/3/a0701e/a0701e07.pdf
3 World Watch Magazine, Volume 22, No. 6 
4 Nature. Vol. 515