Bisnis sosial bukanlah bisnis yang punya kinerja keuangan lebih buruk daripada bisnis komersial. Sebagaimana yang ditunjukkan oleh banyak studi, banyak bisnis sosial yang sebetunya punya kinerja yang malah jauh lebih kinclong daripada rerata bisnis komersial. Namun, bisnis sosial itu cenderung punya jangka waktu yang lebih panjang daripada bisnis komersial untuk mulai menghasilkan keuntungan. Pun, setelah keuntungan diperoleh, bisnis sosial malah mensyaratkan reinvestasi sebagian besar keuntungannya ke dalam perusahaan, agar semakin banyak penerima manfaatnya.

Dengan kondisi yang demikian, bisnis sosial membutuhkan jenis investor yang tidak sama dengan bisnis sosial. Investor bisnis sosial perlu mengakomodasi model bisnis ini ke dalam keputusannya. Di masa awal, bisnis sosial memang kerap mendapatkan investasi dari pendirinya sendiri, yang kebetulan memiliki modal untuk itu. Pada masa berikutnya, banyak bisnis sosial kemudian mendapatkan modal dari hibah dari orang atau organisasi yang bersimpati atau menyukai ide dampak sosial yang dijanjikan oleh model bisnisnya.

Belakangan, ada jenis investor baru yang terlibat dalam perkembangan bisnis sosial, yaitu mereka yang diberi label impact investor, atau investor yang cenderung pada jenis-jenis investasi yang menghasilkan dampak positif dalam aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan untuk masyarakat. Ada juga bisnis sosial yang dibiayai oleh investor komersial, namun kalah popularnya dengan para impact investor itu.

Sumber: UMKMIndonesia.id
Artikel ini pernah dimuat di surat kabar KONTAN, pada tanggal 30 Agustus 2018.
Penulis: Zainal Abidin (Pendiri dan Direktur Utama Perusahaan Sosial WISESA)
Jalal (Pendiri dan Komisaris Perusahaan Sosial WISESA)